News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

GEMPAR Kukuhkan Gerakan Anti Korupsi di Bandung: Dr. Millah Kamilah Muslimat, S.Pd., M.M. Bongkar Akar Masalah hingga Area Rawan Korupsi Pendidikan

GEMPAR Kukuhkan Gerakan Anti Korupsi di Bandung: Dr. Millah Kamilah Muslimat, S.Pd., M.M. Bongkar Akar Masalah hingga Area Rawan Korupsi Pendidikan


BANDUNG | KILATBERITA | Gerakan Masyarakat Pendidikan Anti Korupsi (GEMPAR) di bawah kepemimpinan Zacky Satria, S.E., menggelar Deklarasi dan Penyuluhan Anti Korupsi yang menghadirkan pemaparan mendalam dari Dr. Millah Kamilah Muslimat, S.Pd., M.M., selaku Penyuluh Antikorupsi Bidang Pendidikan Forum Paksiapi Provinsi Jawa Barat.
Dalam materinya, Dr. Millah menegaskan bahwa pencegahan korupsi harus dilakukan secara sistemik, dimulai dari individu hingga institusi pemerintahan.

Akar Korupsi: Lemahnya Moral, Ketamakan, dan Normalisasi Penyimpangan

Dr. Millah menjelaskan tiga penyebab utama perilaku koruptif pada level individu:

1. Moral yang tidak kuat, mudah menyimpang dari aturan.

2. Sifat tamak dan rakus, ingin mengambil lebih dari haknya.

3. Gaya hidup konsumtif, yang mendorong seseorang mengejar cara instan.

Di sisi sosial, lingkungan keluarga yang minim pendidikan integritas, normalisasi pelanggaran kecil, dan kurangnya pendidikan antikorupsi sejak dini menjadi pemicu yang tak kalah besar.

> “Sering kali perilaku salah dianggap biasa, dimaklumi, hingga berubah menjadi budaya kecil yang merusak,” ujar Dr. Millah.

Faktor Ekonomi, Organisasi, dan Politik yang Memicu Korupsi

Ia juga menyoroti faktor ekonomi yang kerap dijadikan alasan pembenar tindakan koruptif, meski pada dasarnya akar persoalan tetap berada pada mentalitas dan integritas.

" Dr. Millah menegaskan bahwa:

* Minimnya keteladanan pimpinan,

* Sistem organisasi yang longgar,

* Budaya kerja yang tidak sehat,


* menjadi pintu masuk terjadinya korupsi.

Di ranah politik, hasrat mempertahankan kekuasaan sering membuat para pemangku kepentingan menempuh jalan pintas, termasuk korupsi di sektor sumber daya alam yang berdampak langsung pada bencana dan kerusakan lingkungan.

Tujuh Bentuk Tindak Pidana Korupsi yang Paling Umum

Dr. Millah menguraikan tujuh jenis Tipikor yang paling sering terjadi:

1. Kerugian keuangan negara

2. Suap-menyuap

3. Penggelapan dalam jabatan

4. Pemerasan

5. Perbuatan curang

6. Benturan kepentingan

7. Gratifikasi

Ia juga mengingatkan adanya tindak pidana serius berupa upaya menghambat penegakan hukum, seperti memberikan keterangan palsu dan membocorkan identitas pelapor.

Bidang Pendidikan: Sektor Strategis yang Paling Rawan Korupsi

Menurut Dr. Millah, pendidikan adalah sektor strategis namun justru rawan penyimpangan.
Ia menyebut enam titik rawan:

1. Dana Alokasi Khusus (DAK)


2. Dana BOS


3. PPDB/SPMB


4. Pengadaan barang dan jasa


5. Kenaikan kelas


6. Pemotongan dana bimtek dan workshop guru

> “Penyimpangan kecil di dunia pendidikan berdampak besar terhadap kualitas generasi mendatang,” tegasnya.

“Korupsi Tidak Bisa Disebut Budaya”

Dr. Millah menolak keras istilah “budaya korupsi”.

> “Kalau disebut budaya, korupsi seolah harus dilestarikan dan pelakunya dianggap budayawan. Itu jelas keliru,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa korupsi berkontribusi pada meningkatnya kemiskinan, pengangguran, hingga kerusakan lingkungan.

Trisula Pencegahan: Represif, Pencegahan Sistem, dan Pendidikan

Dalam penyuluhannya, Dr. Millah mengenalkan pendekatan Trisula Antikorupsi:

1. Represif: penindakan tegas terhadap pelaku.


2. Pencegahan: perbaikan sistem agar celah korupsi tertutup.


3. Pendidikan: internalisasi nilai integritas di semua lapisan.

Integritas dan Nilai-Nilai Anti Korupsi

Dr. Millah menjelaskan bahwa integritas adalah keselarasan antara pikiran, ucapan, tindakan, hati nurani, dan norma.
Nilai penting anti korupsi mencakup:
Tanggung jawab, Mandiri, Jujur, Berani, Sederhana, Peduli, Disiplin, Adil, dan Kerja keras.


---


Sebagai penutup, Dr. Millah memaparkan bahwa pendidikan antikorupsi tengah didorong melalui modul yang diintegrasikan ke mata pelajaran Pancasila, dengan metode:

group dynamic,

inquiry collaborative,

presentation,

melalui sinergi dengan dinas pendidikan, sekolah, dan berbagai lembaga masyarakat.

Teddy

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.