Profesi Jurnalis Itu Profesional, Bukan Konten Kreator: AKPERSI Bersikap Keras di Era Digital
BOGOR | KILATBERITA| Di tengah ledakan konten digital yang kerap menyamarkan fakta dan memburu popularitas, Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (DPP AKPERSI) menegaskan sikap tegas: jurnalis adalah profesi, bukan hiburan dan bukan sekadar pemburu likes maupun views.
Penegasan ini disampaikan melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2025 yang digelar di Villa Lembah Resort Permai, Cipanas Puncak Bogor, mengangkat tema:
“Transformasi Jurnalis Digitalisasi, Konten Kreator Bukan Jurnalis.”
Rakernas dihadiri delegasi dari 33 provinsi, menunjukkan komitmen organisasi untuk menegakkan standar etik dan integritas jurnalistik di tengah serbuan konten instan yang kian menyesatkan publik.
Ketum AKPERSI: “Jurnalis Itu Profesi, Bukan Hobi”
Ketua Umum DPP AKPERSI, Rino Triono, S.Kom., S.H., C.IJ., C.BJ., C.EJ., C.F.L.E. menyampaikan pernyataan keras:
“Jurnalis itu profesi, bukan hobi. Ada standar etik, ada kode perilaku, ada verifikasi, dan ada tanggung jawab. Menyamakan jurnalis dengan konten kreator adalah ancaman serius bagi demokrasi.”
Menurutnya, ketika fakta dipermainkan demi sensasi, publik dirugikan dan kredibilitas media tergerus.
Sekjen AKPERSI: Digitalisasi Tidak Bisa Menghapus Integritas
Sekretaris Jenderal Budianto, C.BJ. menambahkan bahwa digitalisasi adalah keniscayaan, tetapi integritas jurnalistik tidak boleh dikompromikan.
“AKPERSI menyiapkan program nasional untuk memperkuat kompetensi jurnalis, melindungi anggota, dan menolak disinformasi yang diproduksi tanpa verifikasi.”
Ketua Panitia Yudianto, C.BJ.: Rakernas Menjadi Momentum Konsolidasi Moral Jurnalis
Ketua Panitia Rakernas, Yudianto, C.BJ. menyebut kegiatan ini bukan hanya agenda rutin, tetapi momentum penting untuk mengembalikan marwah profesi jurnalis.
“Rakernas 2025 adalah konsolidasi moral. Kami ingin memastikan bahwa anggota AKPERSI di seluruh Indonesia memahami batas tegas antara jurnalisme profesional dan konten kreator. Tugas jurnalis adalah mencari kebenaran, bukan sekadar membuat konten yang viral.”
Yudianto menegaskan bahwa AKPERSI akan memperkuat pendidikan dan pelatihan jurnalistik, terutama dalam menghadapi tantangan algoritma, manipulasi informasi, dan tekanan ekonomi digital.
Hasil Rakernas 2025: Sikap Tegas untuk Menjaga Marwah Pers
Rakernas 2025 menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, antara lain:
* Menolak keras penyamaan jurnalis dengan konten kreator.
* Menyusun pedoman jurnalisme digital yang menekankan verifikasi, akurasi, dan tanggung jawab publik.
* Memperkuat kapasitas anggota menghadapi tantangan teknologi dan derasnya konten instan.
* Mendorong kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dan platform digital untuk menjaga ruang informasi yang sehat.
Sikap Resmi AKPERSI: Profesionalisme adalah Garis Keras
Rino menegaskan kembali bahwa AKPERSI siap bersikap keras terhadap segala upaya yang mereduksi jurnalis menjadi alat hiburan atau perangkat pemasaran digital.
“Profesionalisme, integritas, dan akurasi bukan sekadar slogan. Itu garis keras.”
Rakernas ini menjadi pernyataan sikap terbuka kepada pemerintah, masyarakat, dan platform digital untuk mengakui perbedaan tegas antara jurnalis profesional dan konten kreator, sekaligus mendukung jurnalisme yang bertanggung jawab, independen, dan beretika.
Pesan Utama: Demokrasi Terancam Jika Kebenaran Dikorbankan
Di era ketika popularitas sering lebih dihargai daripada kebenaran, AKPERSI mengingatkan bahwa demokrasi ikut terkikis jika verifikasi diabaikan demi sensasi.
Jurnalis sejati tidak menjual diri untuk popularitas; mereka menjual kebenaran untuk publik.
Redaksi